Posted by: toso | December 18, 2007

mengajarkan arti “gelengan” pada anjing

Di rumah, Aku memelihara seekor anjing jantan. Badannya didominasi bulu coklat ditambah lumayan lebat, dengan bulu hitam di beberapa bagian. Kakinya pendek sehingga badannya terlihat agak memanjang. Ia diberi nama Bringgo.

Secara tak disengaja aku telah melakukan eksperimen kecil-kecilan terhadapnya. Seperti ini kisahnya :

Pagi hari, setelah menghabiskan makan, aku biasa menyisakan tulang ayam atau tulang apapun, untuk kuberikan pada Bringgo. Ku keluar pintu rumah, lalu kulempar tulang itu ke arahnya, dan ia pun makan dengan lahapnya. Kebiasaan itu sempat kuulangi selama beberapa hari.

Setelah beberapa hari, tiap kali aku keluar rumah di pagi hari tanpa membawa makanan, Bringgo pun menghampiri dengan ekor mengibas dan lidah menjulur.

Bagaimana bisa Bringgo menampilkan tingkah laku seperti itu dan bagaimana menguranginya?

Intinya adalah pada munculnya konsekuensi.

Pada kisah ini, keluarnya aku di pagi hari, menimbulkan konsekuensi positif bagi Bringgo : dia mendapatkan sesuatu yang dia suka, yaitu makanan. Karena kebiasaan memberi makan di pagi hari tersebut sempat kuulangi dalam beberapa hari, Bringgo pun sudah bisa membuat hubungan : antara keluarnya aku dan munculnya makanan. Hal ini yang menyebabkan tiap kali aku keluar rumah di pagi hari, Bringgo lalu menghampiri, seperti “berharap” mendapatkan makanan.

Untuk menghentikan kebiasaannya mendatangiku di pagi hari, kuputuskan membuat percobaan kecil-kecilan. Aku ingin agar Bringgo meninggalkanku ketika aku keluar dan menggeleng padanya di pagi hari.

Seperti ini caraku :

Pagi-pagi aku keluar rumah. Bringgo yang telah menanti, seperti dugaanku, datang mendekatiku dengan ekor mengibas dan lidah menjulur. Saat ia sudah ada di depanku, segera kugelengkan kepalaku beberapa kali, kemudian ku tinggalkan ia tanpa kuberi makanan.

Keesokan harinya, kulakukan hal yang serupa.

Namun, 2 hari setelahnya, ketika ku keluar, Bringgo kuberikan makanan. Dan saat ini, aku tidak menggeleng. Esoknya, aku menggeleng pada Bringgo dan tak memberinya makanan.

Hasilnya, sekarang tiap kali aku menggelengkan kepalaku, Bringgo segera diam dan pergi ke tempat lain.

Bagaimana ini bisa terjadi?

Kembali, intinya adalah konsekuensi.

Ketika Bringgo menghampiriku, aku tidak memberikan yang dia suka : makanan. Hal ini merupakan “hukuman” baginya. Dan “hukuman” ini yang berfungsi untuk mengurangi tingkah laku “mendekati” tadi.

Namun aku sesekali memberikannya makanan. Hal ini berfungsi untuk mencegah hilangnya tingkah laku ” mendekati” dan membuat Bringgo semakin “memahami” arti “gelenganku”.

Hal yang perlu diingat bahwa setiap anjing memiliki kemampuan yang berbeda dalam “menghubungkan” satu tingkah laku dengan tingkah laku lainnya, sehingga perlu waktu yang berbeda pula, jika kita ingin mengajarkan sesuatu perilaku. Pengajaran bisa dibilang berhasil, ketika anjing kita sudah bisa menampilkan perilaku yang kita inginkan, bukan berdasarkan banyaknya waktu yang dihabiskan untuk mengajarinya.

Selamat bereksperimen dengan anjing Anda.

Bacaan lebih lanjut :

Wikipedia > Operant Conditioning

Dogmanners.com

Pet Training for Dogs.


Responses

  1. Nanti gw coba ke Chance deh! (nama anjing gw yg tengil!)

    Bravo!

  2. hahahaha
    gw tunggu hasilnya ;)

  3. Gak punya anjing, Kek..! ;p
    Btw, eksperimen kecil lo ini, kalau gw coba pahami dengan prinsip psikologi belajar.. Agak rumit juga! Atau otak gw aja yg ngejelimet? Hehehehe.

  4. Gak rumit kok Mel. Cuma perlu pahami operant conditioning > reinforcement > reward dan punishment ;)
    Makanya, buku Wittig jgn dicoret-coret aja! Dibaca dong :D

  5. Ih, Moko jelek!
    Siapa bilang gak dibaca bukunyah?
    ;p
    Habis, Mok, menurut gw, yg terjadi di atas ituh bukan cuma operant conditioning (asosiasi TL -mendekati- dan konsekuensi -makanan-),
    tapi juga terjadi classical cond. (dugaan gw, si Bringgo teh bisa ‘mengerti’ kalo lo geleng-geleng krn dia mengasosiasikan CS-gelengan- dan US-makanan –> asosiasi dua buah stimulus ciri dari classical cond.?)
    Jadi… trus otak gw ‘panas’ pas mencoba bongkar kode eksperimen lo…. :)

  6. Betul sekali, itu adalah prinsip CC. Namun CC disebut sebagai Clasical [mungkin] karena sudah ada pemahaman tentang conditioning yang baru, yaitu OC. Dimana OC ini melibatkan adanya reinforcement, yang tidak ada di CC. Nah, dalam eksperimen ini, menurut gw, OC lebih “masuk” dalam kasus ini, karena melibatkan adanya mekanisme reward yang menjadi reinforcer bagi Bringgo.

  7. Sayangnya gw harus tidak setuju dengan pendapat lo kalo misalnya maksud kalimat “Namun CC disebut sebagai Clasical [mungkin] karena sudah ada pemahaman tentang conditioning yang baru, yaitu OC.
    Dimana OC ini melibatkan adanya reinforcement, yang tidak ada di CC.” Karena itu seakan menempatkan CC “teori usang” dan OC “teori revolusioner”.
    Memang sih, OC muncul atas kritik terhadap CC, tapi bagaimanapun prinsip dasar keduanya berbeda (dan menjelaskan tipe belajar yg berbeda pula). Seinget gw, itulah sebabnya ada dua paradigma belajar asosiatif : CC dan OC.

    Stated above :

    untuk mencegah hilangnya tingkah laku ” mendekati” dan membuat Bringgo semakin “memahami” arti “gelenganku”.

    Thus, “mencegah hilangnya tingkahlaku (disambung loh) mendekati memang masuk dalam kategoti OC (si Bring bisa lihat hub.mendekati (TL) dan makanan (konsekuensi), tapi “membuat Bringgo semakin memahami arti gelenganku” menurut gw dijelaskan dengan baik oleh prinsip CC (Bring melihat hub.gelengan (stimulus 1) dan makanan (stimulus 2)).

    Tapi kemudian gw juga mempertimbangkan tujuan eskperimen lo :
    “Aku ingin agar Bringgo meninggalkanku ketika aku keluar dan menggeleng padanya di pagi hari.”
    Dilihat dari sini sih, jelas lo berusaha melakukan OC (yang mana menurut gw lebih baik disebut instrumental conditioning dalam hal ini).

    Terus abis itu, gw masih pusing berusaha memahaminyah.
    Tidak pernah tercetus di kelas maupun di kepala gw dua tipe belajar mungkin muncul di waktu yg bersamaan. Tanya kenapa?

  8. Dalam pemahaman gw, yang membedakan OC dari CC adalah adanya manipulasi reinforcement [reward dan punishment. Ingat bahwa reinforcement adalah sesuatu yang bisa mempertahankan atau meningkatkan perilaku]. Dalam kasus ini, manipulasi dilakukan dengan adanya jadwal pemberian positive reinf [..Namun aku sesekali memberikannya makanan..] serta negative punishment [..aku tidak memberikan yang dia suka : makanan..].
    [Perlu diingat juga, pos reinf ini hanya untuk mencegah hilangnya tingkah laku mendekati saja.]

  9. Nah, diharapkan, dari kedua perlakuan tersebut, Bringg dapat menangkap hubungan : jika mendekat [tanpa ada gelengan] > dapat makanan [pos reinf]
    jika mendekat [ada gelengan] > tidak dapat makanan > pergi.

  10. duh, gue gak punya anjing..hehe


Leave a response

Your response:

Categories