Posted by: toso | December 21, 2007

bermain-main di sungai saat banjir

Kamis, 20 Desember 2007, hujan sepertinya sedang sibuk mengguyur Jakarta. Setidaknya di dua daerah yang kukunjungi hari itu; Hayam Wuruk dan Ciganjur. Seorang temanku pun merasakan kengerian ketika melihat hujan yang disertai langit yang berwarna abu-abu. “Makin parah ya, Global Warming?” Maklum, ia salah satu aktivis kampanye tentang pemanasan global, dan menganggap cuaca hari itu sebagai salah satu dampaknya.

Berbicara tentang hujan deras di Jakarta, tentu saja, konsekuensi logis yang selalu muncul, tak lain dan tak bukan adalah banjir. Di beberapa bagian ibukota genangan air, entah darimana asalnya, mulai bermunculan; di jalan-jalan utama, gang-gang kecil, rumah warga, hingga sungai yang meluap.

Tentang sungai yang meluap, aku punya satu cerita, hasil pengamatanku. Mungkin lucu, mungkin juga tidak.

Sore hari, setelah aku pulang dari Hayam Wuruk, langsung aku berangkat lagi menuju rumah seorang teman di dekat rumah. Ketika dalam perjalanan, ku melihat di samping kiriku; sungai selebar 2 meter terlihat penuh terisi dengan air berwarna coklat.

Di dekat salah satu jembatan yang ada di sungai itu, kulihat empat anak sedang bermain di sungai. Semuanya kira-kira seusia anak kelas 3 atau 4 sekolah dasar. Dua anak yang bertelanjang dada, menceburkan diri ke sungai. Dari sini aku bisa memperkirakan kedalaman sungainya. Jika anak-anak tersebut kurang lebih bertinggi 1 meter, dan ketika menceburkan diri, permukaan air sungai mencapai pangkal paha mereka, maka sungai tersebut berkedalaman kurang lebih 50 sentimeter. Dan dengan kedalaman 50 senti itu, sungai tak lagi mampu menampung air lagi. Akibatnya, air pun mulai tumpah ke jalan.

Satu diantara anak itu sedang mendorong sesuatu barang, yang mungkin sebuah rakit bikinan mereka sendiri; home made rakit lah. Rakit itu terdiri dari 4 buah batang bambu yang diikat menjadi satu. Entah apa yang hendak dilakukan anak itu terhadap rakitnya. Mungkin ia ingin menaikinya atau apapun yang bisa dilakukannya.

*Membuatku teringat masa-masa keemasanku bermain hujan di sungai*

Satu anak lagi terlihat mengamati rekannya itu, sambil sesekali menciprati kedua temannya yang berdiri di jembatan.

Selepas beberapa saat, kendaraan yang membawaku pun bergerak maju, dan meninggalkan pemandangan keempat anak tersebut.

Tak jauh dari situ, di sebuah jembatan lain, kulihat seorang anak kecil lainnya. Tingginya kurang lebih, separuh dari anak-anak sebelumnya. Ia mengenakan kaos dengan celana panjang dan sedang berdiri menghadap ke arah sungai yang mengalir menjauh darinya.

Hal yang tak kusangka sebelumnya, ternyata dilakukan anak itu. Sambil berlinangan air hujan yang turun rintik, tiba-tiba ia membuka kancing celananya, menurunkan retsleting lalu mengeluarkan kemaluannya.

Waduh! Anak itu ternyata langsung membuang air kecil ke dalam sungai itu. Lah! Lalu bagaimana dengan anak-anak yang sedang bermain di sungai tadi? Duh, tak tahu lah bagaimana rasanya. Malas aku memikirkan dan membayangkan apa yang akan terjadi kemudian.

Tapi, selama mereka tak tahu apa yang terjadi, mungkin hal tersebut tidak akan jadi masalah.

*Hahahahaha*


Leave a response

Your response:

Categories